BPS: Kenaikan Harga Bahan Pokok Akan Kerek Inflasi, Ganggu Pemulihan Ekonomi

Reporter Cino Tre Sollistino melaporkan

Jakarta – Kenaikan harga bahan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) akan mendorong inflasi ke level yang lebih tinggi dan pada akhirnya menghambat pemulihan ekonomi negara.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi 0,66% secara bulanan pada Maret 2022 (bulanan/juta metrik ton). roulette online

Secara tahunan, inflasi Maret 2022 adalah 2,64% (YoY/YoY) dan 1,20% YTD (YTD).

Presiden BPS Margot Yun memperkirakan inflasi pada April akan meningkat karena beberapa faktor yang bisa menggerakkannya.

Menurutnya, momentum Bulan Puasa dan Idul Fitri juga meningkatkan permintaan beberapa bahan pokok.

BPS mengatakan pada Maret harga cabai, minyak goreng, dan telur ayam naik. Oleh karena itu, bahan bakar rumah tangga dan emas perhiasan juga merupakan beberapa komoditas penyumbang inflasi.

Selain itu, dari sisi politik, pemerintah telah mengumumkan sejumlah kebijakan sejak Januari yang dapat mendorong inflasi.

Kebijakan tersebut meliputi penyesuaian harga LPG mulai 27 Februari 2022, penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax mulai 1 April 2022, dan penyesuaian PPN mulai 1 April 2022 sebesar 11%.

Hal ini berkontribusi pada tingginya tingkat inflasi di bulan April. Bahkan, inflasi kemungkinan akan terpengaruh hingga akhir tahun.

Margo mengatakan kemungkinan inflasi yang tinggi harus segera diantisipasi, karena ada banyak implikasi dan risiko yang dapat ditimbulkan oleh kenaikan inflasi yang tidak terkendali.

Pertama, dampak konsumsi rumah tangga terhadap penurunan daya beli individu, meskipun saat ini menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB Indonesia.

Hal ini kemungkinan akan menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini dalam fase pemulihan.

Kedua, inflasi pangan yang tinggi akan membebani kelas menengah.

Ketiga, dalam jangka panjang, inflasi yang tidak terkendali akan meningkatkan angka kemiskinan saat ini.

Keempat, inflasi yang tinggi akan menghambat kinerja mitra dagang kita, yang pada akhirnya menurunkan output ekonomi.

Kelima, penurunan produksi ekonomi berdampak pada pengurangan lapangan kerja, sehingga meningkatkan tingkat pengangguran.

Seperti Margo, kepala ekonom Faisal Al-Basri mengatakan inflasi yang didorong oleh kenaikan harga pangan cenderung menaikkan tingkat kemiskinan.

Bahkan, kata dia, jumlah penduduk miskin diperkirakan akan kembali dua digit dari situasi satu digit saat ini.

“Akan ada warisan. Kalau harga naik, orang miskin akan berlipat ganda lagi. Padahal, Jokowi Park ingin mengentaskan kemiskinan.”

Menurut datanya, hingga 64% pengeluaran masyarakat miskin digunakan untuk pembelian makanan.

Angka ini berbeda dengan proporsi 20% orang kaya yang hanya membelanjakan 39,22% untuk bahan makanan. Sejalan dengan itu, harga banyak makanan seperti minyak goreng yang baik juga naik.

Dalam diskusi yang sama, M. Misbakhun, anggota DPR-RI ke-11, meminta pemerintah mengambil tindakan tegas untuk memberantas mafia bahan pokok seperti minyak goreng.

Dia mengatakan negara memiliki kekuatan dan kewenangan untuk mencegah orang-orang ini bekerja karena harga minyak goreng sangat tinggi sehingga dapat menyebabkan inflasi.

Saya kira akan memakan waktu lama jika negara tidak tegas dalam masalah ini,” katanya.

Selain harga minyak goreng, Mousbakhun juga menyoroti kenaikan harga BBM belakangan ini.

Kenaikan harga minyak dinilai sangat merepotkan karena berpengaruh besar terhadap inflasi seperti produksi dan transportasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous post Pasangan Anies-AHY Berpeluang Menang Di Pilpres 2024 Versi SMRC
Next post Kemenperin Siapkan Anggaran Rp 8,5 M Untuk Restrukturisasi Mesin Industri TPT