Rentan Penyelewengan, Pemerintah Diminta Evaluasi Formula Penetapan Harga BBM

Siaran pers, al-Senush

Jakarta – Pemerintah harus mengevaluasi Formula Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menjadi dasar penetapan harga bahan bakar minyak bersubsidi dan dasar penetapan batas atas dan bawah untuk bahan bakar umum atau nonsubsidi. situs judi slot online resmi

Penilaian penting karena formula saat ini kemungkinan akan membuat harga bahan bakar rentan terhadap dampak permainan pedagang BBM.

Anggota Komite BPH Migas Mohamed Ben Fajjar untuk 2017-2021 mengatakan bahwa sumber bahan bakar atau biaya impor tidak boleh hanya bergantung pada indeks harga yang ditetapkan oleh badan pengindeksan seperti Platts, yang menjadi dasar harga Central Platts Singapore (MOBS). .

Kasus ini sangat rentan dimanipulasi oleh pedagang Singapura selama mereka menjual BBM di Pertamina.

Muhammad Bin Fajar dari Jakarta mengatakan Jumat (29 April 2022) bahwa “harga minyak mentah internasional (ICP) terendah juga harus dipertimbangkan sebagai variabel dalam menghitung biaya akuisisi”.

Abno menjelaskan, mekanisme distribusi dan alokasi BBM bersubsidi harus diperbaiki dan dievaluasi. Meski berusaha menghindari masalah dalam situasi saat ini di mana harga minyak internasional sedang naik, tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk mencegah kerugian bisnis dari mempertahankan harga minyak.

Menurut Abno, pemerintah harus siap menerima syarat saat harga minyak internasional naik dan harus menyesuaikan dengan perubahan biaya akuisisi.

“Hal ini penting untuk menghindari kerugian entitas komersial yang bertugas mendistribusikan jenis bahan bakar tertentu dan bahan bakar yang ditunjuk,’ katanya.

Selain konsistensi dalam penetapan harga, pemerintah juga harus adil dalam menegakkan regulasi. Perlakuan yang sama terhadap semua bisnis, tidak hanya ditanggung Pertamina, tetapi juga dalam alokasi pendistribusian BBM oleh pemerintah.

“Jumlah pekerjaan pendistribusian BBM diberikan secara proporsional ke semua pelaku usaha berdasarkan omzet tahunannya,” kata Abno.

Hingga saat ini, hanya Pertamina dan PT AKR Corporindo Tbk yang merupakan entitas komersial yang bertanggung jawab untuk mendistribusikan bahan bakar atau solar tertentu. Namun, besaran BBM yang dialokasikan untuk kedua perusahaan tersebut sangat berbeda.

Abno juga menyarankan agar jumlah bantuan tidak harus sama di seluruh Indonesia, tetapi harus diatur secara proporsional sesuai dengan tingkat perekonomian di masing-masing daerah. “Misalnya daerah tertinggal harus mendapat subsidi lebih banyak dari Jakarta atau kota besar lainnya,’ katanya.

BPH Migas sebelumnya mencatat, penyaluran solar bersubsidi melebihi kuota. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kesenjangan harga antara solar bersubsidi dan nonsubsidi yang begitu besar sehingga permintaan meningkat.

Solar bersubsidi Rp 5.150 per liter, solar tanpa bantuan (Dexlite) Rp 12.950 per liter, dan Pertamina Dex Rp 13.700 per liter.

Perbedaan harga inilah yang membuat pembeli solar nonsubsidi akan beralih ke solar bersubsidi. Belum lagi penyalahgunaan kendaraan pertambangan dan pertanian untuk membeli solar bersubsidi. Tapi bekerja sama dengan Pertamina, polisi dan BPH Migas bisa mengendalikan penyalahgunaan BBM bersubsidi.

Tahun ini, BPH Migas telah berkomitmen untuk mendistribusikan 15,1 juta kiloliter bahan bakar solar ke Pertamina Patra Niaga dan AKR Corporindo.

Keputusan ini dikeluarkan pada 27 Desember 2021 oleh Badan Pengatur Migas No. 102/P3JBT/BPHMIGAS/KOM/2021 dan No. 103 / P3JBT / BPH MIGAS / KOM / 2021 diterbitkan. negara .

Namun, dalam rapat kerja dengan Panitia 7 DPR pada 14 April 2022, Menteri ESDM Arivin merekomendasikan untuk menaikkan kuota tambahan solar bersubsidi sebesar 2 juta TL sehingga total kuota subsidi pada tahun 2022 menjadi 17 juta TL. disarankan. Sementara itu, porsi BBM pertalite (90RON) yang masuk misi meningkat dari 23 juta KL menjadi 28 juta KL.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous post Baramulti Sukses Sarana Bagikan Dividen Rs 411,04 Per Saham
Next post Abidzar Al Ghifari: Makan Opor Ayam Di Hari Lebaran Dan Hari Biasa, Cita Rasanya Berbeda